Skip to content

Ada Kasus Remaja di Ponorogo Sayat Tangan Sendiri, Alasannya Bikin Miris Fisherman’s Friend

  • by

Ada Kasus Remaja di Ponorogo Sayat Tangan Sendiri, Alasannya Bikin Miris. 👇

Ponorogo (beritajatim.com) – Tidak hanya di Kabupaten Magetan, kasus remaja putri yang menyayat tangannya sendiri juga terjadi di Kabupaten Ponorogo. Alasan meraka melakukan self harm(menyakiti diri sendiri) bikin miris, yakni rasa frustasi, kecewa pada diri sendiri dan ingin menyerah untuk hidup.

Adanya kasus menyayat tangan dengan silet yang kebanyakan dilakukan oleh remaja putri ini, diungkapkan oleh Psikolog Klinis RSUD dr Harjono, Karina Rizki Rahmawati. Menurutnya, kasus sayat ini, sebenarnya sudah dari dulu ada, bukan terjadi akhir-akhir ini. Secara jumlah, yang dikonsultasikan ke pihaknya, memang tidak banyak. Maksimal 5 remaja dalam sebulan yang berkonsultasi dengan Karina terkait self harm ini.

“Kalau sudah melakukan self harm, korban dan orang tua memang perlu bantuan ke psikolog atau psikiater. Dibilang banyak ya tidak, maksimal ada 5 remaja dalam sebulan yang datang berkonsultasi ke saya,” ungkap Karina, Rabu (01/11/2023).

Baca Juga: Pemkab Mojokerto Gelar Pengawasan dan Pengadilan Manajemen ASN

Anggota badan yang kerap dilukai dengan silet ialah bagian tangan. Bahkan ada yang kedua tangannya dan sayatannya pun cukup panjang, hingga lengan. Kadang malah dilakukan berkali-kali di lengan yang sama.

“Jadi ada ketika lukanya sudah ketutup, malah dilukai lagi,” katanya.

Kurang perhatian dari orang terdekat, apalagi orang tua menjadi pemicu remaja putri ini, menyakiti diri sendiri dengan menyayat tangannya dengan silet. Kemudian juga dikarenakan yang lainnya, yakni terkena bully, baik secara verbal maupun fisik.

“Ada unsur asmara sih, tetapi kebanyakan lebih ke kurang perhatian. Sehingga mereka kecewa dengan dirinya sendiri, dan yang mengakibatkan yang bersangkutan nekat melukai anggota tubuhnya sendiri,” ungkapnya.

Baca Juga: Ini Cara SMPN Unggulan di Gresik Menjaring Siswa Berprestasi

Untuk menyelesaikan permasalahan seperti ini, kata Karina yang paling penting perhatian dari orang tua. Orang tua harus care, dan diberi pola asuh yang baik. Rasa cintanya dengan anak, tidak harus dilakukan/ tidak melulu diberikan secara materi, namun yang tidak kalah pentingnya ialah perhatian

“Kebanyakan ortu mereka bekerja sebagai pekerja migran, di rumah ikut nenek atau kakeknya. Sehingga perhatian untuk si remaja berkurang,” pungkasnya.

Apabila kebiasaan ini diteruskan, tentu sangat berbahaya bagi kesehatan fisik dan jiwa. (end/ian)


Ikuti kami di 👉https://bit.ly/392voLE
#beritaviral #jawatimur #viral berita #beritaterkini #terpopuler #news #beritajatim #infojatim #newsupdate #FYI #fyp